Powered by Blogger.

Hukuman Orang yang Menuduh Zina

Firman Allah SWT :
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat
zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah
mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu
terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orangorang
yang fasiq. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan
memperbaiki dirinya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. [QS. An-Nuur : 4-5]

Hadits Nabi SAW :
Dari ‘Aisyah RA ia berkata, “Setelah turun (ayat tentang) pembebasanku
(dari tuduhan berzina), maka Nabi SAW berdiri di atas mimbar, kemudian
beliau menyebutkan hal itu dan membaca (yakni Al-Qur’an). Setelah beliau
turun (dari mimbar), lalu memerintahkan terhadap dua orang laki-laki dan
seorang perempuan, kemudian mereka didera sebagai hukuman hadd”.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 192, no. 4474].

Keterangan :
Menurut riwayat, dua orang laki-laki tersebut adalah Hassaan bin Tsaabit
dan Misthah bin Utsaatsah. Adapun seorang wanita tersebut adalah
Hamnah binti Jahsyin.

Dari Sahl bin Sa’d dari Nabi SAW, bahwasanya ada seorang laki-laki
datang kepada beliau dan menyatakan bahwasanya ia telah berzina
dengan seorang perempuan dan ia sebutkan namanya kepada beliau.
Maka Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk menanyai wanita
tersebut tentang hal itu, lalu si wanita itu tidak mengakui bahwa ia telah
berzina, maka laki-laki itu dihukum dera, sedangkan si wanita dibebaskan.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 159, no. 4466]

Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya ada seorang laki-laki dari bani Bakr bin Laits
datang kepada Nabi SAW lalu mengaku bahwa dia telah berbuat zina
dengan seorang wanita (dengan menyebut nama wanita itu), dia
mengatakan hingga empat kali pengakuan. Maka beliau menderanya
seratus kali, karena dia seorang jejaka. Kemudian beliau menanyakan
bukti tuduhannya terhadap wanita tersebut. (Dan ternyata ia tidak bisa
mendatangkan bukti atas tuduhannya tersebut). Lalu wanita itu berkata,
“Dia berdusta, demi Allah wahai Rasulullah”. Kemudian beliau menderanya
lagi 80 kali atas tuduhan tersebut. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 159, no.
4467, dla’if karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama Al-Qaasim
bin Fayyaadl Al-Abnawiy]

Dari Abu Hurairah bahwasanya Sa’ad bin ‘Ubadah berkata, ”Ya
Rasulullah jika aku mendapati istriku bersama seorang laki-laki, apakah
aku juga harus menangguhkannya sehingga aku mendatangkan empat
orang saksi ?”. Beliau SAW bersabda, “Ya”. [HR. Muslim juz 2, hal 1135].

Dari Abu Hurairah RA ia berkata : Aku pernah mendengar Abul Qasim
SAW bersabda, “Barangsiapa menuduh budaknya (berzina) padahal dia
bersih dari tuduhan itu, maka ia akan didera pada hari kiyamat nanti,
kecuali kalau memang tuduhannya itu benar seperti apa yang ia katakan”.
[HR. Bukhari juz 8, hal. 24].

Dari Abuz Zinad, bahwa ia berkata : Umar bin Abdul Aziz pernah
menghukum dera dengan delapan puluh kali dera kepada seorang budak
dalam kasus tuduhan (zina). Abuz Zinad berkata : Kemudian aku bertanya
kepada Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah tentang hal itu, maka jawabnya,
“Aku mendapati ‘Umar bin Khaththab, ‘Utsman bin Affan dan khalifahkhalifah
yang lain, maka aku tidak melihat seorangpun yang menghukum
dera kepada seorang budak dalam kasus tuduhan (zina) yang melebihi
empat puluh dera”. [HR. Malik dalam Al-Muwaththa' juz 2, hal. 828]

Keterangan :

Orang yang menuduh zina kepada orang lain, apabila tidak bisa
mendatangkan empat orang saksi, ia harus dihukum dera sebanyak 80
kali berdasarkan QS. An-Nuur : 4. Tetapi apabila yang menuduh itu
seorang budak, ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa
diapun juga harus dihukum 80 kali dera, dan ada yang berpendapat dia
hanya dikenai hukuman separuhnya (40 kali dera). Hal ini bisa dimaklumi,
karena hukuman berbuat zina pun bagi budak, hukumannya tidak dirajam,
tetapi separohnya hukuman orang merdeka yang belum bersuami (yakni
hanya didera 50 dera), sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisaa’ :
25. walloohu a’lam.

Orang yang mengaku berzina dengan seorang perempuan, tidak
berarti menuduhnya.

Dari Nu’aim bin Hazzal ia berkata : Adalah Maa’iz bin Malik seorang yatim
di bawah asuhan ayahku, lalu ia berzina dengan seorang perempuan dari
suatu kampung. Kemudian ayahku berkata kepadanya, “Pergilah kepada
Rasulullah SAW lalu beritahukanlah kepada beliau tentang apa yang telah
engkau perbuat, barangkali beliau akan memohonkan ampun untukmu !”.
Dan (ayahku) menghendaki demikian itu hanyalah mengharapkan jalan
keluar untuknya. Lalu ia datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Ya
Rasulullah, sesungguhnya aku telah berbuat zina maka laksanakan hukum
Allah atas diriku”. Kemudian Nabi SAW berpaling darinya, lalu Maa’iz
datang lagi dan berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina
maka laksanakanlah hukum Allah atas diriku”, sehingga ia menyatakannya
sampai empat kali. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Seungguhnya kamu
telah mengucapkan pengakuanmu itu empat kali. Lalu dengan siapa
engkau berzina ?”. Ia menjawab, “Dengan si Fulanah”. Nabi SAW
bertanya, “Apakah engkau menidurinya ?”. Ia menjawab, “Ya”. Nabi SAW
bertanya lagi, “Apakah engkau bercumbu dengannya ?”. Ia menjawab,
“Ya”. Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah kamu menyetubuhinya ?”. Ia
menjawab, “Ya”. (Nu’aim) berkata : Kemudian beiau memerintahkan agar
ia dirajam. Kemudian ia dibawa keluar ke tanah berbatu. Tatkala ia dirajam
dan merasakan benturan batu-batu, ia pun kesakitan, lalu ia lari, kemudian
Abdullah bin Unais menjumpainya sedangkan teman-temannya
kewalahan, lalu dia mencabut tulang betis unta dan melemparkannya
kepada Maa’iz sehingga mati. Kemudian dia datang kepada Nabi SAW
lalu menceritakan hal tersebut kepada beliau. Maka Nabi SAW bersabda :
“Mengapa tidak kalian biarkan saja, barangkali ia mau bertaubat, lalu Allah
menerima taubatnya ?”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 145, no. 4419]

Hukuman zina tidak dapat dijatuhkan karena suatu tuduhan atau
pengakuan yang tidak jelas.
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Dahulu saya di sisi Nabi SAW, tibatiba
ada seorang laki-laki datang seraya berkata, “Ya Rasulullah, sungguh
saya telah berbuat tindak kejahatan, oleh karena itu laksanakanlah
hukuman atasku !”. (Anas) berkata : Nabi SAW tidak menanyakan
kejahatan tentang apa kepadanya. (Tidak lama kemudian) datanglah
waktu shalat, lalu orang tersebut shalat bersama Nabi SAW. Setelah
selesai shalat, laki-laki tersebut berdiri menghampiri Nabi SAW, seraya
berkata, “Ya Rasulullah, sungguh aku telah berbuat tindak kejahatan, oleh
karena itu laksanakanlah hukuman (atasku) berdasar Kitabullah”.
Kemudian Nabi SAW bertanya, “Bukankah engkau telah shalat
bersamaku?”. Ia menjawab, Ya. Lalu Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosamu” atau “tindak
kejahatanmu”. [HR. Bukhari juz 8, hal. 23].

Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya aku
merajam seseorang tanpa bukti, niscaya si fulanah itu sudah kurajam.
Tetapi lantaran dalam pembicaraan dan gerak-geriknya nampak
meragukan dan juga orang yang masuk padanya, (maka dia tidak
dirajam)”. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 855, no. 2559].

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Hindarkanlah
hukuman selama kamu masih menemukan alasan untuk
menghindarkannya”. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 850, no. 2545, dla’if,
karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ibrahim bin Fadhl Al-
Makhzumiy]

Dari Aisyah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tolaklah hukuman
terhadap kaum muslimin semaksimalmu. Maka jika ada jalan keluar,
lepaskanlah dia, sebab seorang imam itu jika keliru dalam memberikan
ampunan, adalah lebih baik daripada keliru dalam menjatuhkan
hukuman”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 438, no. 1447, dla’if karena dalam
sanadnya ada perawi bernama Yaziid bin Ziyaad].
Bersambung…………...


0 komentar:

Post a Comment